Dairi - Kasus penyalahgunaan Anggaran Dana Bos didunia pendidikan, hingga menyeret beberapa oknum , mulai dari pihak Kepala Sekolah sebagai pengelola anggaran hingga melibatkan oknum dari Dinas pendidikan itu sendiri.

Banyaknya dugaan peluang oknum Kepala Sekolah melakukan tindakan korupsi dana Bos umumnya muncul dari kurangnya transparansi, manipulasi data dan lemahnya pengawasan dalam pengelolaan keuangan sekolah, khususnya pengawasan dari dinas Inspektorat yang dinilai tidak serius.

Biasanya modus yang dilakukan dalam menjalankan praktik korupsi anggaran Dana Bos adalah dengan penggelembungan biaya ( Mark up ) , memanipulasi data siswa ( dapodik ) , pembiayaan kegiatan fiktif, penggunaan dana untuk kepentingan pribadi, pemalsuan dokumen dan kwitansi hingga tidak jarang adanya penyalahgunaan wewenang pengadaan barang / jasa.

Kali ini tim Wartawan kembali menyoroti salah satu sekolah SMP Negeri 3 yang ada di Kecamatan Siempat Nempu Hilir, Pardomuan Kabupaten Dairi, anggaran Dana Bos ratusan juta rupiah per tahunnya menjadi pertanyaan publik.

Sulitnya tim Wartawan melakukan konfirmasi kepihak sekolah memunculkan dugaan penyalahgunaan anggaran Dana Bos semakin mencuat. Kepala Sekolah, hingga guru guru terkesan alergi kepada wartawan dengan cara meninggalkan Wartawan. 

Hal yang mengejutkan diketahui ketika tim Wartawan mencoba bertanya kepada beberapa siswa yang saat itu berhasil ditemui menyampaikan bahwa kepala Sekolah Perdin Sinaga diketahui jarang masuk, siswa ini juga mengatakan, Perdin Sinaga hanya masuk pada hari Senin. 

Total anggaran Dana Bos yang diterima oleh sekolah SMP Negeri 3 Siempat Nempu Hilir ini mencapai 500 juta rupiah per tahunnya dengan jumlah siswa penerima 467 siswa , tim Wartawan menyoroti beberapa poin pengalokasian janggal yang perlu dipertanyakan.

Tim Wartawan menyoroti beberapa poin diantaranya perpustakaan mencapai 70 juta rupiah per tahunnya, anggaran Sarana prasarana , anggaran Dana Bos untuk honorer mencapai 200 juta pertahun dan beberapa pengalokasian anggaran lainya perlu dipertanyakan.

Tim Wartawan sudah mencoba berulang kali menghubungi kontak kepala sekolah Perdin Sinaga untuk kepentingan konfirmasi melalui pesan singkat, tapi hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan atau jawaban konfirmasi kepada Wartawan.