Dairi - Luar biasa, Ibu boru Marpaung diduga melakukan penimbunan BBM Subsidi dengan cara pengisian berulang ulang menggunakan Jirigen. Bahkan diketahui dari informasi dari beberapa SPBU yang berhasil di konfirmasi, boru Marpaung ini bisa melakukan pengisian di 3 SPBU yang ada di Sidikalang dengan penggunaan barcode yang berbeda.
Berdasarkan keluhan warga yang selama ini dikeluhkan, warga sering mengeluh tidak bisa mengisi BBM subsidi di SPBU karena pihak SPBU menyatakan bahwa BBM Subsidi dinyatakan sudah habis. Warga ini juga menyampaikan, Untuk BBM Subsidi, khususnya Pertalite selalu cepat habis disetiap SPBU tanpa makan waktu lama setelah tangki BBM melakukan pengisian.
Pihak SPBU dan para oknum Penimbunan BBM subsidi diduga kuat sudah menjalin kerja sama yang buruk sehingga masyarakat sekitar di kabupaten Dairi sering mengeluh kalau BBM subsidi di SPBU selalu Habis, sedangkan untuk para penjual eceran dipinggir jalan selalu terlihat melimpah.
Dugaan terjadinya kerjasama yang buruk pihak SPBU dengan para oknum penimbunan BBM subsidi ini terbukti ketika tim wartawan mendapati seorang ibu ibu, Ibu yang mengaku boru Marpaung ini mengaku sedang mengangkut BBM hasil pembeliannya di salah satu SPBU.
Tidak tanggung tanggung, Puluhan Jirigen berukuran 35 liter tampak berjejer rapih dengan keseluruhannya terlihat berisi penuh dengan BBM jenis Pertalite. Saat dipertanyakan, boru Marpaung ini dengan santai mengatakan, hanya membagi kepada pengecer pengecer Warung.
“ Attusi ma namangalului ngoluon“ ( mengertilah dengan mencari hidup) ucapnya.
Menurut informasi dari sumber yang tidak mau disebutkan namanya menyampaikan bahwa, praktik penimbunan BBM subsidi ini sering didengar juga dilindungi oleh Oknum Wartawan.
Seorang Warga pengendara sepeda motor yang saat itu berhasil diminta tanggapan dengan isu penimbunan BBM subsidi menyampaikan, permainan pengecer membuat harga BBM subsidi melambung tinggi di pasaran, Ia mengaku pernah dengan terpaksa membeli BBM eceran dengar harga 15.000 per liter, karena di SPBU sudah dinyatakan habis.
"Kalau sudah sampai di kios, harganya Rp15 ribu, padahal harga resmi cuma Rp10 ribu, Mereka terlalu banyak cari untung, yang rugi tetap masyarakat kecil seperti kami yang sehari-hari butuh bensin untuk kerja," ucapnya dengan nada kesal.